Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia hari Senin (27/12/2010) pukul 15.15 waktu argentina berhasil menancapkan bendera merah putih di Aconcagua (6900 mdpl), gunung tertinggi di benua Amerika.
Tiga pendaki yang berhasil menggapai puncak adalah Adhesir Yatebbi, Martin Rimbawan, dan Lutfi Al Fajri dari Wanadri. Keberhasilan Tim dari Wanadri itu dikabarkan wartawan salah satu media massa yang bernama Harry Susilo hari Rabu dari Plaza de Mulas.
Hari terhadang badai pada ketinggian 6500 mdpl sehingga belum berhasil mencapai puncak. Pendakian selama 14 jam berlangsung dalam suasana hujan badai yang dahsyat sehingga tiga anggota tim lain Nurhuda, Iwan Irawan dan Gina Afriani diminta turun ke camp 3 Cholera karena kondisi fisik tak memungkinkan.
Setelah mencapai puncak dan membuat beberapa dokumentasi tim kembali ke camp Cholera. Total dibutuhkan waktu 14 jam darI Camp Cholera ke puncak dan kembali ke camp cholera. Rencananya, anggota tim Nurhuda, Iwan, Gina Afriani kembali akan menuju puncak pada Kamis besok.
Untuk summit kedua, manajer tim lebih memprioritaskan untuk para pendaki. Anggota tim lain menunggu di Plaza de mulas. Demikian dilaporkan wartawan Kompas Hari Susilo dari Plaza de Mulas. Demikian catatan online Orangapatiang tentang Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia.
Home » Archives for Desember 2010
Rabu, 29 Desember 2010
Senin, 20 Desember 2010
Apel Kesetiaan
Paguyuban Dukuh (Pandu) Kabupaten Bantul dan sejumlah elemen masyarakat di Yogyakarta akan menggelar Apel Kesetiaan terhadap keistimewaan Yogyakarta dengan cara melakukan cap jempol darah.
Aksi ini akan dilaksanakan di Kantor Sekretariat Paguyuban Dukuh Kabupaten Bantul di utara Lapangan Sepak Bola Sultan Agung, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Sekitar pukul 13.00 WIB nanti kami akan menggelar apel kesetiaan terhadap keistimewaan Yogyakarta dengan cara cap jempol darah," kata Sulistyo Admojo, Ketua Paguyuban Dukuh (pandu) Kabupaten Bantul, DIY, Selasa, 21 Desember 2010
Sulis menyatakan cap jempol darah setidaknya akan diikuti oleh para kepala dusun yang ada di Kabupaten Bantul beserta elemen masyarakat di Yogyakarta yang masih setia terhadap keistimewaan DIY, yang salah satunya adalah penetapan jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY adalah Sultan dan Paku Alam yang bertahta.
"Bagi kami penetapan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Cap jempol darah ini juga sebagai wujud kesiapan para kepala dusun dan elemen masyarakat yang pro penetapan untuk membela sampai mati keistimewaan DIY," katanya.
Lebih lanjut Sulis menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kain putih dengan lebar 1 meter dan panjang 5 meter yang nantinya digunakan untuk cap jempol darah sebagai tanda kesetiaan terhadap keistimewaan Yogyakarta. "Kami tidak menargetkan berapa banyak peserta yang akan mengikuti apel kesetiaan dengan cap jempol darah."
Pandu Kabupaten Bantul saat ini terus melakukan penyebaran bendera keraton Yogyakarta dan Paku Alaman hingga akhir bulan Desember ini. "Kami targetkan 5.000 bendera Keraton Yogyakarta dan Paku Alaman telah berkibar sebelum RUUK DIY dibahas oleh Komisi II DPR," ujar Sulis. Demikian catatan online Orangapatiang tentang Apel Kesetiaan.
Aksi ini akan dilaksanakan di Kantor Sekretariat Paguyuban Dukuh Kabupaten Bantul di utara Lapangan Sepak Bola Sultan Agung, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Sekitar pukul 13.00 WIB nanti kami akan menggelar apel kesetiaan terhadap keistimewaan Yogyakarta dengan cara cap jempol darah," kata Sulistyo Admojo, Ketua Paguyuban Dukuh (pandu) Kabupaten Bantul, DIY, Selasa, 21 Desember 2010
Sulis menyatakan cap jempol darah setidaknya akan diikuti oleh para kepala dusun yang ada di Kabupaten Bantul beserta elemen masyarakat di Yogyakarta yang masih setia terhadap keistimewaan DIY, yang salah satunya adalah penetapan jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY adalah Sultan dan Paku Alam yang bertahta.
"Bagi kami penetapan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Cap jempol darah ini juga sebagai wujud kesiapan para kepala dusun dan elemen masyarakat yang pro penetapan untuk membela sampai mati keistimewaan DIY," katanya.
Lebih lanjut Sulis menyatakan, pihaknya telah menyiapkan kain putih dengan lebar 1 meter dan panjang 5 meter yang nantinya digunakan untuk cap jempol darah sebagai tanda kesetiaan terhadap keistimewaan Yogyakarta. "Kami tidak menargetkan berapa banyak peserta yang akan mengikuti apel kesetiaan dengan cap jempol darah."
Pandu Kabupaten Bantul saat ini terus melakukan penyebaran bendera keraton Yogyakarta dan Paku Alaman hingga akhir bulan Desember ini. "Kami targetkan 5.000 bendera Keraton Yogyakarta dan Paku Alaman telah berkibar sebelum RUUK DIY dibahas oleh Komisi II DPR," ujar Sulis. Demikian catatan online Orangapatiang tentang Apel Kesetiaan.
Selasa, 07 Desember 2010
Markas Besar Kepolisian RI
Markas Besar Kepolisian RI belum dapat berkomentar terkait bocornya dokumen rahasia Indonesia yang dimuat dalam situs WikiLeaks. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya penanganan bocornya dokumen tersebut kepada Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam).
"Kita ini punya Menko Polhukam, jadi nanti beliaulah yang akan mengatur apa langkah-langkahnya. Kalaupun memang dikeluarkan, apa langkah-langkah preventifnya," ujar Iskandar dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (6/12/2010).
Dalam dokumen yang dibocorkan WikiLeaks terdapat informasi yang mengatakan bahwa jaringan teroris akan melakukan aksi pembalasan di sebuah pusat perbelanjaan pada 2008 jika pelaku Bom Bali, Amrozi, dieksekusi.
Terkait informasi dalam WikiLeaks tersebut, kata Iskandar, pihak kepolisian belum mengetahuinya. "Saya cek dulu ya," katanya.
Demikian pula dengan informasi dalam WikiLeaks yang mengungkap perseteruan Polri dengan TNI. Situs WikiLeaks membocorkan bahwa Polri dan TNI terlibat perseteruan atas dana pengamanan Freeport senilai 20 juta dollar AS pada tahun 1998-2004. Menanggapi hal tersebut, Iskandar belum dapat berkomentar.
Menurutnya, informasi yang dibocorkan WikiLeaks, apalagi yang menyangkut institusi Polri, harus dibuktikan kebenarannya. "Di atas kita ada Menko Polhukam, beliau nanti yang akan menetralisir apa pun dari berita-berita itu. Saya enggak bisa menjawab. Bohong atau tidak, perlu dibuktikan," kata Iskandar. Demikian catatan online Orangapatiang tentang Markas Besar Kepolisian RI.
"Kita ini punya Menko Polhukam, jadi nanti beliaulah yang akan mengatur apa langkah-langkahnya. Kalaupun memang dikeluarkan, apa langkah-langkah preventifnya," ujar Iskandar dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (6/12/2010).
Dalam dokumen yang dibocorkan WikiLeaks terdapat informasi yang mengatakan bahwa jaringan teroris akan melakukan aksi pembalasan di sebuah pusat perbelanjaan pada 2008 jika pelaku Bom Bali, Amrozi, dieksekusi.
Terkait informasi dalam WikiLeaks tersebut, kata Iskandar, pihak kepolisian belum mengetahuinya. "Saya cek dulu ya," katanya.
Demikian pula dengan informasi dalam WikiLeaks yang mengungkap perseteruan Polri dengan TNI. Situs WikiLeaks membocorkan bahwa Polri dan TNI terlibat perseteruan atas dana pengamanan Freeport senilai 20 juta dollar AS pada tahun 1998-2004. Menanggapi hal tersebut, Iskandar belum dapat berkomentar.
Menurutnya, informasi yang dibocorkan WikiLeaks, apalagi yang menyangkut institusi Polri, harus dibuktikan kebenarannya. "Di atas kita ada Menko Polhukam, beliau nanti yang akan menetralisir apa pun dari berita-berita itu. Saya enggak bisa menjawab. Bohong atau tidak, perlu dibuktikan," kata Iskandar. Demikian catatan online Orangapatiang tentang Markas Besar Kepolisian RI.
Kamis, 02 Desember 2010
Microblogging Twitter
idak disangka-sangka, kehadiran Microblogging Twitter (twitter.com) yang setiap pesannya terbatas 140 karakter menjadi momok yang menakutkan bagi industri media arus utama (mainstream), baik media cetak, elektronik, maupun online. Mengapa menakutkan?
Alan Rusbridger, kolumnis teknologi Guardian.co.uk, pada 19 November merilis sebuah artikel mengenai 15 alasan mengapa Twitter bisa menjadi masalah bagi organisasi media. Opininya itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti pemilik dan pegiat media, tetapi lebih sekadar peringatan semata. Rusbridger justru menyarankan pemilik media berdamai dan tidak harus malu mengadopsi kelebihan Twitter dalam mendistribusikan kontennya.
Bagi warga dunia maya (netizen), Twitter yang mulai online sejak 15 Juli 2006 adalah sebuah keniscayaan. Dengan tekanan waktu dan kesibukan, warga di dunia maya ini tidak lagi ngeblog dengan membuat posting yang panjang lebar. Cukup berkicau seperti burung tentang apa yang terjadi dan menginformasikan peristiwa yang menimpanya atau orang lain, pesan sudah sampai secara berantai.
Twitter yang dikembangkan Jack Dorsey adalah pesan singkat (SMS) virtual yang bekerja di internet. Twitter tidak lebih dari SMS internet. Sebagaimana sebuah pesan singkat, ia dibatasi hanya 140 karakter. Lantas pesan (tweet) apa yang bisa disampaikan para tweep (penyampai tweet) lewat batasan 140 karakter? Bagaimana mungkin industri media bisa terganggu oleh pesan 140 karakter itu?
Sebelum menjawab serenceng pertanyaan ini, baiknya simak terlebih dahulu 15 pikiran Rusbridger mengapa media arus utama perlu mewaspadai Twitter:
1) Distribusi yang mengagumkan. Benar, pesan hanya dibatasi 140 karakter, tetapi di dalamnya tersimpan tautan yang mengantarkan siapa pun ke sebuah situs yang alamat domainnya sudah dipendekkan. Lewat pesan viral-nya, pesan bisa tersebar. Tidak heran setiap situs yang sadar media sosial melengkapi fiturnya dengan ”share on Twitter”.
2) Menempatkan peristiwa lebih dahulu. Meski tidak selalu, banyak berita pertama muncul di Twitter sebelum jurnalis menuliskannya. Bahkan, breaking news bisa langsung diperoleh di Twitter.
3) Sebagai mesin pencari. Twitter adalah saingan Google. Pengguna Twitter yang jumlahnya mendekati angka 200 juta tidak lagi mencari informasi dari Google, tetapi langsung memperolehnya dari jutaan tweet yang mengalir setiap saat.
4) Agregat yang tangguh. Twitter adalah feed berita pribadi sesuai keinginan penggunanya. Tautan tempat berita itu tersimpan bisa langsung dibuka.
5) Bentuk pemasaran yang fantastis. Posting-an yang ditulis di web akan lebih cepat tersebar jika di-share di Twitter karena viral message yang memungkinkan sebuah pesan terus bergulir.
6) Alat reportase yang hebat. Tidak bisa dimungkiri, sekarang banyak wartawan mencari informasi atau ide berita dari Twitter.
7) Rangkaian percakapan. Twitter memungkinkan penggunanya berinteraksi aktif mengenai topik yang dibicarakan.
8) Lebih beragam. Pada media tradisional, hanya segelintir pembaca/pemirsa yang bisa memberikan umpan balik. Di Twitter, setiap orang bisa ”berkicau” sesukanya.
9) Mengubah ”nada” tulisan. Banyak keberanian menulis/bersuara muncul di Twitter. Orang yang semula aktif mendengarkan menjadi aktif berbicara menuangkan gagasan.
10) Hilangnya hierarki lapangan. Tidak semata orang terkenal yang didengar, orang biasa pun memungkinkan berinteraksi secara intens.
11) Memiliki nilai berbeda. Untuk informasi, orang tidak lagi bergantung kepada jurnalis profesional sebab jutaan tweep adalah ”jurnalis” itu sendiri yang siap berbagi informasi.
12) Memiliki rentang perhatian yang panjang. Twitter adalah bentuk ”kesadaran” baru, bahkan dengan menggunakan TweetDeck, pengguna bisa mengatur informasi yang dikehendaki berdasarkan subyek atau pertemanannya.
13) Menciptakan komunitas. Dimungkinkan terbentuknya masyarakat global berdasarkan kepentingan dan minat.
14) Mengubah pengertian tentang kewenangan. Daripada menunggu pendapat pakar yang dimuat/ditayangkan media, Twitter menggeser keseimbangan yang disebut kewenangan ”peer to peer”.
15) Agen perubahan. Isu yang diciptakan akan memengaruhi orang lain atau lembaga pemegang kewenangan. Ini yang disebut sebagai kolaborasi kekuatan media!
Bagi pemilik media massa, khususnya media cetak yang jauh dari kultur web, tidak ada alasan untuk takut karena pembaca media cetak punya kultur sendiri. Akan tetapi, kecenderungan orang mengakses informasi secara cepat harus menjadi pertimbangan. Persoalannya, Twitter menghadirkan kecepatan itu!
Cepat tidak identik dengan tepat. Bagaimana jika Twitter mampu mengadopsi jargon klasik jurnalistik ”get it first, but first get it right”? Ini menjadi persoalan, khususnya bagi media online yang berburu kecepatan, tetapi kadang mengabaikan ketepatan. Kultur Twitter terbentuk secara alamiah sebab tweep cenderung mencari tweet berkualifikasi ”right” selain ”first”. Tweep bukan semata sebagai konsumen penelan informasi, melainkan menjadi produsen yang memberi feed kepada tweep lainnya! Demikian catatan online Orangapatiang tentang Microblogging Twitter.
Alan Rusbridger, kolumnis teknologi Guardian.co.uk, pada 19 November merilis sebuah artikel mengenai 15 alasan mengapa Twitter bisa menjadi masalah bagi organisasi media. Opininya itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti pemilik dan pegiat media, tetapi lebih sekadar peringatan semata. Rusbridger justru menyarankan pemilik media berdamai dan tidak harus malu mengadopsi kelebihan Twitter dalam mendistribusikan kontennya.
Bagi warga dunia maya (netizen), Twitter yang mulai online sejak 15 Juli 2006 adalah sebuah keniscayaan. Dengan tekanan waktu dan kesibukan, warga di dunia maya ini tidak lagi ngeblog dengan membuat posting yang panjang lebar. Cukup berkicau seperti burung tentang apa yang terjadi dan menginformasikan peristiwa yang menimpanya atau orang lain, pesan sudah sampai secara berantai.
Twitter yang dikembangkan Jack Dorsey adalah pesan singkat (SMS) virtual yang bekerja di internet. Twitter tidak lebih dari SMS internet. Sebagaimana sebuah pesan singkat, ia dibatasi hanya 140 karakter. Lantas pesan (tweet) apa yang bisa disampaikan para tweep (penyampai tweet) lewat batasan 140 karakter? Bagaimana mungkin industri media bisa terganggu oleh pesan 140 karakter itu?
Sebelum menjawab serenceng pertanyaan ini, baiknya simak terlebih dahulu 15 pikiran Rusbridger mengapa media arus utama perlu mewaspadai Twitter:
1) Distribusi yang mengagumkan. Benar, pesan hanya dibatasi 140 karakter, tetapi di dalamnya tersimpan tautan yang mengantarkan siapa pun ke sebuah situs yang alamat domainnya sudah dipendekkan. Lewat pesan viral-nya, pesan bisa tersebar. Tidak heran setiap situs yang sadar media sosial melengkapi fiturnya dengan ”share on Twitter”.
2) Menempatkan peristiwa lebih dahulu. Meski tidak selalu, banyak berita pertama muncul di Twitter sebelum jurnalis menuliskannya. Bahkan, breaking news bisa langsung diperoleh di Twitter.
3) Sebagai mesin pencari. Twitter adalah saingan Google. Pengguna Twitter yang jumlahnya mendekati angka 200 juta tidak lagi mencari informasi dari Google, tetapi langsung memperolehnya dari jutaan tweet yang mengalir setiap saat.
4) Agregat yang tangguh. Twitter adalah feed berita pribadi sesuai keinginan penggunanya. Tautan tempat berita itu tersimpan bisa langsung dibuka.
5) Bentuk pemasaran yang fantastis. Posting-an yang ditulis di web akan lebih cepat tersebar jika di-share di Twitter karena viral message yang memungkinkan sebuah pesan terus bergulir.
6) Alat reportase yang hebat. Tidak bisa dimungkiri, sekarang banyak wartawan mencari informasi atau ide berita dari Twitter.
7) Rangkaian percakapan. Twitter memungkinkan penggunanya berinteraksi aktif mengenai topik yang dibicarakan.
8) Lebih beragam. Pada media tradisional, hanya segelintir pembaca/pemirsa yang bisa memberikan umpan balik. Di Twitter, setiap orang bisa ”berkicau” sesukanya.
9) Mengubah ”nada” tulisan. Banyak keberanian menulis/bersuara muncul di Twitter. Orang yang semula aktif mendengarkan menjadi aktif berbicara menuangkan gagasan.
10) Hilangnya hierarki lapangan. Tidak semata orang terkenal yang didengar, orang biasa pun memungkinkan berinteraksi secara intens.
11) Memiliki nilai berbeda. Untuk informasi, orang tidak lagi bergantung kepada jurnalis profesional sebab jutaan tweep adalah ”jurnalis” itu sendiri yang siap berbagi informasi.
12) Memiliki rentang perhatian yang panjang. Twitter adalah bentuk ”kesadaran” baru, bahkan dengan menggunakan TweetDeck, pengguna bisa mengatur informasi yang dikehendaki berdasarkan subyek atau pertemanannya.
13) Menciptakan komunitas. Dimungkinkan terbentuknya masyarakat global berdasarkan kepentingan dan minat.
14) Mengubah pengertian tentang kewenangan. Daripada menunggu pendapat pakar yang dimuat/ditayangkan media, Twitter menggeser keseimbangan yang disebut kewenangan ”peer to peer”.
15) Agen perubahan. Isu yang diciptakan akan memengaruhi orang lain atau lembaga pemegang kewenangan. Ini yang disebut sebagai kolaborasi kekuatan media!
Bagi pemilik media massa, khususnya media cetak yang jauh dari kultur web, tidak ada alasan untuk takut karena pembaca media cetak punya kultur sendiri. Akan tetapi, kecenderungan orang mengakses informasi secara cepat harus menjadi pertimbangan. Persoalannya, Twitter menghadirkan kecepatan itu!
Cepat tidak identik dengan tepat. Bagaimana jika Twitter mampu mengadopsi jargon klasik jurnalistik ”get it first, but first get it right”? Ini menjadi persoalan, khususnya bagi media online yang berburu kecepatan, tetapi kadang mengabaikan ketepatan. Kultur Twitter terbentuk secara alamiah sebab tweep cenderung mencari tweet berkualifikasi ”right” selain ”first”. Tweep bukan semata sebagai konsumen penelan informasi, melainkan menjadi produsen yang memberi feed kepada tweep lainnya! Demikian catatan online Orangapatiang tentang Microblogging Twitter.
Langganan:
Entri (Atom)